{"id":479,"date":"2026-07-14T20:24:29","date_gmt":"2026-07-14T13:24:29","guid":{"rendered":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/?p=479"},"modified":"2026-07-16T17:32:35","modified_gmt":"2026-07-16T10:32:35","slug":"contoh-soal-asesmen-numerasi-sma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/contoh-soal-asesmen-numerasi-sma\/","title":{"rendered":"Contoh Soal Asesmen Numerasi SMA: 3 Level Kognitif dan Pembahasan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Contoh Soal Asesmen Numerasi SMA<\/strong> mencakup 36 butir soal yang diujikan dalam <strong>ANBK<\/strong> kepada siswa <strong>Kelas XI<\/strong>. Soal ini terbagi ke dalam empat domain konten yaitu Bilangan, Aljabar, Geometri dan Pengukuran, serta Data dan Ketidakpastian. Seluruh pertanyaan dirancang pada tiga level kognitif berbeda berdasarkan kerangka kerja <strong>AKM<\/strong> yang mengadopsi standar <strong>PISA<\/strong> dari <strong>OECD<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak siswa dan guru mendapati nilai ujian jatuh karena siswa terjebak membaca teks stimulus yang terlalu panjang. Stimulus soal sering kali memuat grafik berlapis atau paragraf padat yang sengaja menyisipkan banyak angka pengecoh. Akibatnya, siswa kehabisan waktu memilah data relevan sebelum mereka sempat menerapkan rumus matematika yang sebenarnya mereka kuasai.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Poin Utama Asesmen Numerasi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Instrumen Utama<\/strong>: Asesmen mengukur kemampuan bernalar menggunakan konsep matematika pada konteks dunia nyata.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tiga Level Kognitif<\/strong>: Klasifikasi soal terbagi menjadi tingkat Pemahaman (L1), Penerapan (L2), dan Penalaran (L3).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Empat Domain Materi<\/strong>: Ruang lingkup ujian mencakup Bilangan, Aljabar, Pengukuran dan Geometri, serta Data dan Ketidakpastian.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Format Soal Beragam<\/strong>: Siswa akan menghadapi pilihan ganda biasa, pilihan ganda kompleks, dan isian singkat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Diujikan dalam AKM Numerasi SMA<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">AKM atau Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi bukan ujian matematika konvensional. Instrumen ini mengukur kemampuan siswa bernalar menggunakan konsep matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari. Siswa sering merasa soal numerasi mirip dengan mata pelajaran bahasa Indonesia karena mereka harus membaca wacana panjang sebelum menemukan masalah matematisnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asesmen Nasional memiliki cakupan yang luas. Menurut <strong>detik.com<\/strong> (2023), instrumen ini terdiri atas tiga komponen yaitu AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Khusus untuk bagian numerasi, <strong>Kemendikbudristek<\/strong> merancang format yang menuntut penyelesaian masalah logika alih-alih sekadar memasukkan angka ke dalam rumus cepat.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"background:#e0f2fe;border-left:4px solid #3b82f6;border-radius:4px;padding:1rem 1.25rem\">\n<p><strong>Jadwal Penting:<\/strong> Pelaksanaan ujian jenjang SMA tahun ajaran 2025 diproyeksikan berlangsung pada tanggal 4 hingga 7 Agustus 2025 <a href=\"https:\/\/tirto.id\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">menurut kalender asesmen tirto.id<\/a>.<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beban pengerjaan ujian ini cukup menantang bagi peserta. Menurut <strong>kemdikbud.go.id<\/strong> (2024), siswa harus mengerjakan 36 soal numerasi dalam satu sesi ujian. Durasi dan jumlah soal ini menuntut konsentrasi tinggi sejak menit pertama.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Materi dan Domain Konten Numerasi SMA<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seluruh soal numerasi SMA dipetakan ke dalam empat ruang lingkup materi utama. Menurut <strong>Kemdikbud<\/strong> (2023), empat domain konten tersebut meliputi Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan Ketidakpastian, serta Aljabar. Setiap materi ini kemudian diuji pada tingkat kesulitan berpikir yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyusunan instrumen ini dilakukan <a href=\"https:\/\/pusmendik.kemdikbud.go.id\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">berdasarkan panduan Pusat Asesmen Pendidikan<\/a> (<strong>Pusmendik<\/strong>). Menurut <strong>Pusmendik<\/strong> (2024), soal dibagi menjadi tiga level kognitif yaitu Pemahaman, Penerapan, dan Penalaran. Berikut adalah matriks penyebaran materinya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th>Domain Konten<\/th><th>Pemahaman (L1)<\/th><th>Penerapan (L2)<\/th><th>Penalaran (L3)<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Bilangan<\/td><td>Mengidentifikasi nilai<\/td><td>Menghitung diskon<\/td><td>Membandingkan harga<\/td><\/tr><tr><td>Aljabar<\/td><td>Mencari variabel<\/td><td>Membuat fungsi<\/td><td>Memprediksi tren<\/td><\/tr><tr><td>Geometri<\/td><td>Mengenali bangun<\/td><td>Menghitung volume<\/td><td>Merancang tata letak<\/td><\/tr><tr><td>Data<\/td><td>Membaca tabel<\/td><td>Menghitung peluang<\/td><td>Mengevaluasi klaim<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<div style=\"background:#f3e8ff;border-left:4px solid #9333ea;border-radius:4px;padding:1rem 1.25rem\">\n<p><strong>Mitos:<\/strong> AKM Numerasi adalah ujian matematika biasa yang hanya menilai kemampuan menghafal rumus.<br><strong>Faktanya:<\/strong> Numerasi menuntut siswa merumuskan situasi dunia nyata ke dalam bentuk matematis dan menafsirkan solusi, bukan mengingat rumus cepat menurut <strong>kemdikbud.go.id<\/strong> (2024).<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Level Penalaran (L3) Berbeda dari Penerapan (L2)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak guru kesulitan membedakan soal tingkat Penerapan (L2) dan Penalaran (L3) saat menyusun instrumen mandiri. Soal level Penerapan meminta siswa menggunakan rumus atau prosedur pada situasi baru yang sudah jelas parameter angkanya. Siswa hanya perlu tahu rumus mana yang harus dipakai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, soal level Penalaran menuntut siswa mengevaluasi, menjustifikasi, atau menyintesis beberapa konsep sekaligus dari stimulus yang sama. Sebagai contoh pada satu grafik pertumbuhan penduduk, pertanyaan L2 akan meminta siswa menghitung selisih populasi. Namun, pertanyaan L3 akan meminta siswa menilai apakah klaim seorang pengamat tentang laju pertumbuhan tersebut valid atau tidak berdasarkan data grafik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Membedah Stimulus Panjang Sebelum Menjawab Soal<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Stimulus soal numerasi SMA sering memuat paragraf panjang, tabel multi-kolom, atau grafik berlapis yang sengaja menyisipkan angka pengecoh. Praktik lapangan menunjukkan banyak siswa gagal karena mereka langsung membaca teks dari awal sampai akhir tanpa tujuan. Terdapat cara cepat mengerjakan soal cerita ANBK dengan teknik memilah data relevan berikut ini.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Baca kalimat pertanyaan paling bawah terlebih dahulu sebelum membaca wacana atau melihat infografis.<\/li>\n\n\n\n<li>Identifikasi kata kunci pada pertanyaan untuk mengetahui variabel apa yang sebenarnya dicari.<\/li>\n\n\n\n<li>Pindai stimulus secara cepat dan abaikan paragraf pengantar yang hanya berisi latar belakang cerita.<\/li>\n\n\n\n<li>Sorot angka atau data di dalam tabel yang terhubung langsung dengan kata kunci pertanyaan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teknik ini sangat berguna saat menghadapi data visual yang rumit. Anda bisa melihat <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">penjelasan cara membaca diagram di Ruangguru<\/a> untuk melatih kepekaan visual. Kesalahan paling fatal biasanya terjadi saat siswa melewatkan detail kecil pada legenda grafik.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"background:#fff8e1;border-left:4px solid #f59e0b;border-radius:4px;padding:1rem 1.25rem\">\n<p><strong>Catatan Penting:<\/strong> Perhatikan label satuan pada sumbu grafik. Sering kali grafik mencantumkan keterangan dalam ribuan. Jika siswa menghitung angka mentah tanpa mengalikannya dengan seribu, hasil akhirnya pasti salah.<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Contoh Soal Asesmen Numerasi SMA per Level Kognitif<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut contoh soal AKM SMA yang disusun berdasarkan tiga level kognitif. Latihan soal ANBK SMA numerasi ini dilengkapi dengan deskripsi stimulus visual dan pembahasan langkah demi langkah agar siswa memahami alur logikanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Soal Level Pemahaman (L1)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soal level Pemahaman meminta siswa membaca data langsung dari stimulus tanpa transformasi perhitungan rumit. Kemampuan utama yang diuji adalah ekstraksi fakta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Stimulus:<\/strong> Sebuah tabel menunjukkan daftar harga bahan pokok di tiga pasar berbeda. Pasar A menjual beras Rp12.000 per kg, Pasar B Rp11.500 per kg, dan Pasar C Rp12.500 per kg.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Soal 1 (Pilihan Ganda):<\/strong> Berdasarkan tabel tersebut, pasar manakah yang menawarkan harga beras paling murah?<br>\nA. Pasar A<br>\nB. Pasar B<br>\nC. Pasar C<br>\nD. Semua pasar sama<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pembahasan:<\/strong> Siswa hanya perlu membandingkan angka secara langsung dari tabel. Nilai Rp11.500 adalah yang terkecil. Jawaban yang benar adalah B.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Soal 2 (Isian Singkat):<\/strong> Berapa selisih harga beras antara pasar termahal dan termurah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pembahasan:<\/strong> Kurangkan harga tertinggi dengan harga terendah. Rp12.500 dikurangi Rp11.500 sama dengan 1000. Jawaban yang ditulis adalah 1000.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Soal Level Penerapan (L2)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soal level Penerapan mengharuskan siswa memilih prosedur yang tepat lalu mengeksekusinya pada situasi baru. Tipe ini sering muncul dalam bentuk soal numerasi SMA pilihan ganda kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Stimulus:<\/strong> Grafik batang menunjukkan volume penjualan air galon di sebuah toko selama empat minggu. Minggu pertama 150 galon, minggu kedua 120 galon, minggu ketiga 180 galon, dan minggu keempat 200 galon. Harga satu galon adalah Rp15.000.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Soal 3 (Pilihan Ganda Kompleks):<\/strong> Manakah pernyataan berikut yang benar berdasarkan grafik tersebut? (Pilih lebih dari satu)<br>\nA. Total volume penjualan selama empat minggu adalah 650 galon.<br>\nB. Pendapatan toko pada minggu ketiga adalah Rp2.700.000.<br>\nC. Penjualan minggu keempat meningkat 50 persen dari minggu kedua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pembahasan:<\/strong> Mari kita uji setiap opsi. Opsi A: 150 ditambah 120 ditambah 180 ditambah 200 sama dengan 650 (Benar). Opsi B: 180 dikali Rp15.000 sama dengan Rp2.700.000 (Benar). Opsi C: Kenaikan dari 120 ke 200 adalah 80. Persentase kenaikan adalah 80 dibagi 120, yaitu sekitar 66 persen (Salah). Jawaban yang benar adalah A dan B.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Soal Level Penalaran (L3)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Soal level Penalaran tidak cukup dijawab dengan satu rumus. Siswa harus mengevaluasi beberapa pernyataan dan menjustifikasi mana yang valid. Kategori ini sering menjadi contoh soal asesmen numerasi SMA domain data dan ketidakpastian yang paling menantang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Stimulus:<\/strong> Sebuah infografis memuat data curah hujan bulanan Kota X. Rata-rata curah hujan tahun lalu adalah 150 mm per bulan. Pengamat A mengklaim bahwa bulan depan curah hujan pasti di atas 200 mm karena sedang musim hujan. Pengamat B menyatakan kita tidak bisa memastikan angka pastinya hanya dari rata-rata tahunan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Soal 4 (Isian Singkat):<\/strong> Berdasarkan prinsip statistika, klaim pengamat manakah yang lebih valid?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pembahasan:<\/strong> Rata-rata tahunan tidak bisa digunakan untuk memprediksi nilai tunggal bulan tertentu secara mutlak, apalagi curah hujan memiliki variasi musiman. Klaim Pengamat B lebih tepat secara logis. Jawaban: Pengamat B.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Strategi Menjawab Soal Pilihan Ganda Kompleks (PGK)<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bentuk soal <strong>Pilihan Ganda Kompleks<\/strong> mengizinkan siswa memilih lebih dari satu jawaban benar. Kesalahan paling umum terjadi ketika siswa menganggap pernyataan yang hampir benar sebagai kebenaran mutlak tanpa memverifikasi setiap opsi. Berikut adalah cara menjawab soal pilihan ganda kompleks AKM secara sistematis.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Uji setiap pernyataan secara terpisah seolah-olah itu adalah soal benar atau salah yang berdiri sendiri.<\/li>\n\n\n\n<li>Eliminasi pernyataan yang mengandung kata mutlak seperti pasti atau selalu jika data stimulus bersifat fluktuatif.<\/li>\n\n\n\n<li>Hitung ulang angka pada pernyataan yang terlihat sangat meyakinkan, karena pembuat soal sering menaruh angka jebakan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<div style=\"background:#fff8e1;border-left:4px solid #f59e0b;border-radius:4px;padding:1rem 1.25rem\">\n<p><strong>Tips Proktor:<\/strong> Saat mengisi jawaban pada antarmuka Isian Singkat, pastikan siswa menulis angka bulat tanpa tambahan titik ribuan atau koma desimal yang tidak perlu. Format penulisan yang salah bisa terbaca sebagai jawaban keliru oleh sistem.<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pertanyaan Umum tentang Soal Numerasi SMA<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa jumlah soal AKM numerasi SMA?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siswa kelas XI harus mengerjakan 36 butir soal numerasi dalam satu sesi ujian. Jumlah ini mencakup berbagai domain materi dan tersebar ke dalam tiga level kognitif yang berbeda untuk mengukur kemampuan penalaran secara komprehensif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Berapa target skor minimal AKM SMA?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asesmen ini tidak menerapkan skor minimal kelulusan bagi individu. Hasil ujian digunakan murni untuk pemetaan mutu sekolah yang akan dikelompokkan ke dalam empat kategori yaitu Perlu Intervensi Khusus, Dasar, Cakap, dan Mahir.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Di mana bisa download soal AKM SMA resmi dari Kemendikbud?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kumpulan soal latihan resmi dapat diakses melalui laman Pusat Asesmen Pendidikan. Selain itu, pemerintah juga merilis aplikasi simulasi ujian yang bisa digunakan sekolah setiap menjelang masa pelaksanaan asesmen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa bedanya UNBK dan ANBK SMA?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ujian Nasional Berbasis Komputer menguji penguasaan materi per mata pelajaran untuk menentukan kelulusan siswa secara individu. Sebaliknya, Asesmen Nasional Berbasis Komputer mengukur kompetensi dasar literasi dan numerasi untuk mengevaluasi mutu sekolah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apakah soal ANBK SMA hanya berbentuk pilihan ganda?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Format soal sangat bervariasi dan tidak terbatas pada satu bentuk. Siswa akan menghadapi pilihan ganda biasa, pilihan ganda kompleks yang jawabannya lebih dari satu, serta isian singkat yang membutuhkan ketelitian mengetik jawaban.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penguasaan materi asesmen ini membutuhkan pembiasaan logika yang konsisten dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, numerasi bukan soal seberapa cepat siswa menghitung angka di atas kertas, melainkan tentang bagaimana mereka membaca dan memahami dunia nyata menggunakan kacamata matematika.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Contoh soal asesmen numerasi SMA disusun per level kognitif (L1, L2, L3) beserta pembahasan dan strategi membedah stimulus. Siap hadapi ANBK 2025.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":487,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-479","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","resize-featured-image"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=479"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/479\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":578,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/479\/revisions\/578"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/487"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stkippgribl.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}